Minggu, 15 April 2012

Plasser & Theurer di Indonesia (Perawatan Jalan Rel)

MTT 08 - 32 U




DATA TEKNIS MTT 08 - 32 U:

- Jumlah mesin : 2 bauh
- Tipe mesin : KHD BF12L 413F
- Keluaran : 1990
- Daya : 240 KW 12 cylinder 2300 rpm
- Kapasitas : 600 - 700 meter / jam
- Panjang : 31 m
- Berat : 64 ton
- v maks : 80 km / jam
- Jumlah pecok : 24 buah

FUNGSI :

Mengatur geometri jalan rel dengan pemecokan balast kricak di bawah bantalan
yang sudah termasuk melestreng ( menggeser ) lifting ( mengangkat )

PERANGKAT KHUSUS :

- Di lengkapi dengan kamera cctv yang di gunakan untuk mengawasi jalannya
operasi mesin
- lori wagon , lori ini berfungsi sebagai optical monitoring kondisi rel sebelum di
lakukannya pemecokan dan sesudah pemecokan
- Genset power
- Dongkrak HY statis
- double pecok , berisi 24 buah pecok di mana sekali pecok dapat mengerjakan 2
buah bantalan sekaligus

TENTANG MESIN :

Mesin ini merupakan mesin eks jepang yang di datangkan ke indonesia tahun 1995 dengan jumlah 2 buah dan di operasikan di daop 111 cirebon dan Daop V purwokerto, dapat berjalan sendiri tanpa di tarik lokomotif dengan kecepatan teknis 60 km / jam namun di lapangan dapat berjalan dengan kecepatan 80 km / jam. Dengan di berlakukan sisten kerja terpadu 2 mesin janis ini di tempatkan di zona 1 ( jakarta, bandung, cirebon ) dan zona 2 ( semarang, purwokerto, yogyakarta ).

MTT 09 - 16 CAT


DATA TEKNIS MTT 09 - 16 CAT :

Jumlah mesin : 4 unit
Pembuatan : Austria 1995
Daya : 256 PK
Panjang : 16,24 meter
Tinggi : 3,3 meter
Lebar : 2,95 meter
Berat : 34 Ton
Kapasitas Tangki : 700 liter
V maks : 80 km / jam
type penggerak : MD FBL413F
Dimensi Roda : 0,73 meter
Beban Poros : 17 Ton
Baterai : 24 volt ( 12 volt 2 buah )
Putaran : 2500 Rpm
Tangki Hydrolik : 960 liter

FUNGSI :

Merawat dan memperbaiki geometri jalan rel yang meliputi mangangkat, melestreng ( menggeser ) ,menimbang, memadatkan balast di bawah bantalan

TENTANG MESIN:

MTT jenis ini di dtangkan dari austria ke indonesia sebanyak 4 buah dan di operasikan di Daop I , III , V , VI . Mesin bertipe CAT (Countinous Automatic Tamping ) di mana terdapat bagian yang bergerak sendiri yang di sebut SATELIT ( Bagian yang bergerak itu tiada laen adalah bagian pecok itu sendiri )
Dengan berbobot 34 Ton mesin ini dapat bergerak sendiri dan mampu berjalan 80 km / jam. terdapan dua buah kabin operasi ( kabin 1 dan kabin 2 ) di mana dua kabin itu mempunyai fungsi yang berbeda , kabin 1 lebih di fungsikan untuk pengaturan pengangkatan, pelestrengan yang di laukan secara manual maupun komputer. Di dalamnya terdapat pendulum manual dan digital tecno yang dapat menunjukkan geografi jalan rel yang akan di kerjakan, kabin 2 di fungsikan untuk pengoperasian mekanik mesin ( memecok ) , serta terdapat pendulum-pendulum elektrik maupun digital penunjuk hasil pemecokan.

KELENGKAPAN POKOK :

- Seperangkat komputer perencanaan kerja
- 4 buah roda troli
- 2 buah roda jalan
- 16 buah pecok
- mikrofon yang menghubungkan kabin 1 dan 2
- Sensor - sensor Elektrik
- Pendulum manual dan digital
- valve - valve perpindahan gigi.

KEKURANGAN :

Seringnya terjadi kerusakan di bagian elektrik


MTT 07 - 16 G


DATA TEKNIS MTT 07 - 16 G :

Jumlah mesin : 6 unit
Pembuatan : Austria 1984
Daya : 167 PK
Panjang : 14 meter
Tinggi : 2,68 meter
Lebar : 3,3 meter
Berat : 24 Ton
Kapasitas Tangki : 800 liter
V maks : 60 km / jam
type penggerak : F6L413F
Baterai : 24 volt ( 12 volt 2 buah )
Tangki Hydrolik : 800 liter

FUNGSI :

Merawat dan memperbaiki geometri jalan rel yang meliputi mangangkat, melestreng ( menggeser ) ,menimbang, memadatkan balast di bawah bantalan

TENTANG MESIN:

MTT jenis ini di didatangkan dari austria ke indonesia sebanyak 4 buah dan di operasikan di Daop III, V, VI, VIII, Divre I dan III. MTT ini hanya berdaya mesin 167 PK 6 silinder. MTT ini memiliki dua kabin tetapi hanya satu yang dilayani. Komponen engine MTT 07-16 G ini sama seprti MTT lain hanya pompa hidroliknya saja menggunakan fun pump (radial pump) sehingga tekanan dalam sistem hidrolik yang dihasilkan hanya 160 bar. Perbedaan lainnya MTT menggunakan kontrol meja semi mekanis sedangkan transmisi jalannya menggunakan transmisi gear seperti mobil.

MTT 08-16 GS


DATA TEKNIS MTT 08 - 16 GS :

Jumlah mesin : 10 unit
Pembuatan : Austria 1998-1990
Daya : 167 PK
Panjang : 14,1 meter
Tinggi : 2,8 meter
Lebar : 2,8 meter
Berat : 26 Ton
Kapasitas Tangki : 700 liter
V maks : 50-80 km / jam
type penggerak : F6L413F
Baterai : 24 volt ( 12 volt 2 buah )


Putaran : 2500 Rpm
Tangki Hydrolik : 800 liter

FUNGSI :

Merawat dan memperbaiki geometri jalan rel yang meliputi mangangkat, melestreng ( menggeser ) ,menimbang, memadatkan balast di bawah bantalan

TENTANG MESIN:

MTT jenis ini paling banyak dibeli Indonesia sebanyak 10 unit pada tahun 1988-1990. MTT ini dioperasikan di Daop I, II ,VII, VIII, IX dan Divre III. Sistem kontrol MTT jenis ini sudah full elektrik sehingga hasil kerja lebih akurat. Transmisi jalannya menggunakan hidrostatis sedangkan pengaturan kecepatan dari pompa hidrolik dan motor hidrolik. MTT ini mampu melaju dengan kecepatan 50-80 km/jam tanpa transmisi gear. Untuk gas pakai handle mirip mobil matic. MTT jenis ini cocok untuk lintasan yang tidak bergongsol dan berwesel.

MTT 08-16 GS/UM



DATA TEKNIS MTT 08 - 16 GS/UM :

Jumlah mesin : 2 unit
Pembuatan : Austria 1995
Daya : 256 PK
Panjang : 14,1 meter
Tinggi : 3,3 meter
Lebar : 2,8 meter
Berat : 26 Ton


Dimensi Roda : 0,73 meter
Kapasitas Tangki : 700 liter
V maks : 80 km / jam
type penggerak : F8L413F
Baterai : 24 volt ( 12 volt 2 buah )


Putaran : 2500 Rpm
Tangki Hydrolik : 900 liter

FUNGSI :

Merawat dan memperbaiki geometri jalan rel yang meliputi mangangkat, melestreng ( menggeser ) ,menimbang, memadatkan balast di bawah bantalan

TENTANG MESIN:

MTT jenis ini dibeli Indonesia sebanyak 2 unit pada tahun 1995. MTT ini dioperasikan hanya di Daop II. Untuk bisa digunakan di wesel dan gongsol, MTT ini unit tampingnya didesain khusus agar bisa digeser atau diatur sesuai kebutuhan. MTT ini mampu melaju dengan kecepatan 80 km/jam. MTT ini hanya ditempatkan di Bandung karena memiliki titik beradius lengkung kecil yang bergongsol.

MTT 08-75 GS



DATA TEKNIS MTT 08 - 16 GS/UM :

Jumlah mesin : 2 unit
Pembuatan : Austria 1988-1990
Daya : 167 PK
Panjang : 14,1 meter
Tinggi : 3,3 meter
Lebar : 2,8 meter
Berat : 26 Ton


Dimensi Roda : 0,73 meter
Beban Poros : 13 Ton
Kapasitas Tangki : 700 liter


Pemakaian BBM: 25 liter/jam
V maks : 80 km / jam
type penggerak : F6L413F
Baterai : 24 volt ( 12 volt 2 buah )
Putaran : 2500 Rpm
Tangki Hydrolik : 900 liter

FUNGSI :

Merawat dan memperbaiki geometri jalan rel yang meliputi mangangkat, melestreng ( menggeser ) ,menimbang, memadatkan balast di bawah bantalan

TENTANG MESIN:

MTT jenis ini dibeli Indonesia sebanyak 3 unit pada tahun 1988-1990. MTT ini dioperasikan di Daop I, VI, VII. Daun pecoknya hanya ada empat yang bisa digerakan ke kiri dan kanan rel. Sepasang daun pecoknya bisa ditekuk ke atas 90° saat memecok di sela wesel yang sempit. Untuk mengangkat rel saat pemecokan MTT ini juga dilengkapi sebatang besi pengait (rail hook). MTT jenis ini dapat memecok satu wesel. MTT ini mampu melaju dengan kecepatan 80 km/jam.


SSP 203



DATA TEKNIS SSP 203 :

Jumlah mesin: 4 unit
Pembuatan : Austria 1995
Daya : 320 PK
Panjang : 10,05 meter
Tinggi : 2,75 meter
Lebar : 3,5 meter
Berat : 26 Ton
Kapasitas: 300-350 meter/jam


V maks : 80 km / jam
type penggerak : -

FUNGSI :

Memprofil ballast (membentuk susunan ballast/track)

TENTANG MESIN:

SSP 203 buatan Austria tahun 1995 dioperasikan di Daop I, III, V, VI. Kelebihan SSP 203 dibanding tipe lainnya mampu memprofil ballast dengan kecepatan tinggi sehingga volume profil ballast yang dikerjakan lebih banyak. Tenaga mesinnya juga lebih besar yairu 320 PK.


USP 203


DATA TEKNIS USP 203 :

Jumlah mesin: 2 unit
Pembuatan : Austria 1998
Daya : 320 PK
Panjang : 13,9 meter
Tinggi : 2,95 meter
Lebar : 3,7 meter
Berat : 30 Ton
Kapasitas: 300 meter/jam
V maks : 50 km / jam
type penggerak : -

FUNGSI :

Memprofil ballast (membentuk susunan ballast/track)

TENTANG MESIN:

USP 203 buatan Austria tahun 1988 dioperasikan di Daop III, Divre III. Sistem kerjannya sama dengan tipe lainnya hanya bedanya dilengkapi bak penampung ballast berkapasitas muat 7 meter kubik. Bak ini digunakan untuk menampung kelebihan ballast setelah proses perataan ballast.

PBR 400



DATA TEKNIS PBR 400 :

Jumlah mesin: 8 unit
Pembuatan : Austria 1998-1990
Daya : 167 PK
Panjang : 11,8 meter
Tinggi : 2,84 meter
Lebar : 3,4 meter
Berat : 18 Ton
Kapasitas: 300 meter/jam
V maks : 50 km / jam
type penggerak : -

FUNGSI :

Memprofil ballast (membentuk susunan ballast/track)

TENTANG MESIN:

PBR 400 buatan Austria tahun 1988-1990 dioperasikan di Daop I, II, IV VII, VIII, Divre III. Mesin ini jumlahnya paling banyak dibeli sebanyak 8 unit.


PBR 202


DATA TEKNIS PBR 202 :

Jumlah mesin: 8 unit
Pembuatan : Austria 1984
Daya : 167 PK
Panjang : 9,3 meter
Tinggi : 2,7 meter
Lebar : 2,9 meter
Berat : 15 Ton
Kapasitas: 300 meter/jam
V maks : 50 km / jam
type penggerak : -

FUNGSI :

Memprofil ballast (membentuk susunan ballast/track)

TENTANG MESIN:

PBR 202 buatan Austria tahun 1988-1990 dioperasikan di Daop V, VIII, Divre I. Mesin ini dibeli sebanyak 8 unit.


VDM 800 G/GS


DATA TEKNIS VDM 800 G/GS :

Jumlah mesin : 9 unit
Pembuatan : Austria 1988
Daya : 167 PK
Panjang : 8,9 meter
Tinggi : 2,7 meter
Lebar : 3,1 meter
Berat : 16 Ton
V maks : 50 km / jam
type penggerak : -
kapasitas: 300 meter/jam

FUNGSI :

Memadatkan ballast di antara bantalan

TENTANG MESIN:

VDM 800 G/GS buatan Austria tahun 1988 dioperasikan di Daop I, III, V, VI, VII, Divre I dan III. Mesin ini dibeli sebanyak 9 unit. VDM dilengkapi alat pemadat dan vibrator. Cara kerjanya alat pemadat ballast bekerja naik-turun. Saat bekerja, ballast ditekan dengan besaran tekanan 160 bar. Untuk menghasilkan getaran maksimal dan mengurangi rongga-rongga antar ballast, saat penekanan disertai dengan getaran vibrasi.


TG 80-4



DATA TEKNIS TG 80-4 :

Jumlah mesin : 2 unit
Pembuatan : Austria 1989
Daya : 320 PK
Panjang : 16,5 meter
Tinggi : 3,24 meter
Lebar : 2,5 meter
Berat : 40 Ton
V maks : 80 km / jam
type penggerak : -

FUNGSI :

Menggali parit, mengangkat, mengangkut dan menurunkan material.

TENTANG MESIN:

TG 80-4 buatan Austria tahun 1989 dioperasikan di Daop III dan Divre III. Mesin ini dibeli sebanyak 2 unit. Keunggulan mesin ini dalah memiliki dump truck untuk menampung material. Untuk menunjang operasi, mesin ini memiliki 3 motor disel yang terdiri 4 silinder motor untuk penggerak crane dan 4 silinder untuk berjalan di rel. Untuk tenaga jalan digunakan 2 motor disel bertenega 320 PK sedangkan untuk crane digunakan 1 motor disel bertenaga 110 PK.


BC/RM 62/74 HR



DATA TEKNIS BC/RM 62/74 HR :

Jumlah mesin : 2 unit
Pembuatan : Austria 1984-1990
Daya : 242 PK
Panjang : 25,5 meter
Tinggi : 3,72 meter
Lebar : 2,8 meter
Berat : 64 Ton
Kapasitas Tangki : 800 liter
V maks : 60 km / jam
type penggerak : BF12L413F
Putaran : 1800 Rpm
Tangki Hydrolik : 750 liter
Kapasitas: 10 meter/jam

FUNGSI:

Membersihkan ballast.


TENTANG MESIN:

BC/RM 74/62 RM buatan Austria tahun 1988 dioperasikan hanya di Daop III dan Divre III. BC tipe RM 74 HR buatan 1990 ada Daop III dan tipe RM 62 buatan 1984 Divre II. Namun, sayang BC/RM74/ 62HR sudah tidak bisa dioperasikan lagi karena kesulitan suku cadang. Bila dibandingkan dengan mesin mekanik berat lainnya, BC/RM 74/64 HR memiliki ukuran paling panjang. Panjang mesinnya 25,5 meter dengan berat 64 ton, mampu melaju dengan kecepatan maksimum 60 km/jam. Daya yang dimiliki 242 PK dan mampu melakukan tugas membersihkan ballast 10 m/jam. Sebelum Ballast dibersihkan terlebih dahulu ballast di rel dikeruk dengan alat pengeruk. Alat pengeruk ini terletak dibelakang roda depan ballast cleane. Semua ballast yang sudah terkumpul lalu disedot ke bagian screen atau penyaringan. Ballast hasil penyaringan langsung terpilih melalui Conveyor. Ballast yang telah tersaring dan masuk kriteria ballast bersih yang diameternya antara 20-60 mm. Ballast inilah yang kemudian kembali dipergunakan di jalan rel. Sedangkan ballast yang diluar ukuran tersebut langsung dipisahkan dan dibuang kekanan dan kekiri jalan rel.


FBW/355 APT


DATA TEKNIS FBW/K 355 APT :

Jumlah mesin : 2 unit
Pembuatan : Austria 1984
Daya : 337 PK
Panjang : 15 meter
Tinggi : 3,7 meter
Lebar : 2,84 meter
Berat : 40 Ton
V maks : 60 km / jam
type penggerak : BF12L413F
Kapasitas: 8-10 titik/jam

FUNGSI:

Mengelas/ menyambung rel.

TENTANG MESIN:

FBW/K 355 APT buatan Austria tahun 1984 dioperasikan hanya di Daop III dan Divre III. FBW/K 355 APT buatan 1984 ada Daop III dan Divre III. Proses lasnya hanya butuh waktu sekitar 3 menit dan dalam 1 jam mampu mengelas 8-10 titik. Mesin las keluaran Austria ini dilengkapi mesin berdaya 337 PK dan bisa berjalan direl tanpa ditarik lokomotif. Kecepatan saat berjalan pun dapat 60 km/jam. PT kereta api (persero) saat ini hanya memiliki dua unit saja. Alokasinya 1 di Jawa ditempatkan di Daop III dan satu lagi di Dipo Divre III. FBW ini mengelas dengan sistem Flash Butt. Tidak memerlukan bahan tambahan dan tak terlihat bekas sambungan. Karena bisa berjalan direl, FBW ini bekerja melakukan pengelasan dikanan-kiri rel. Hanya saja mesin las ini tak bisa untuk mengelas pada posisi rel yang telah terpasang. Kecuali dibuka dulu penambatnya.

Jumat, 24 Februari 2012

Lokomotif Mallet di Indonesia

Lokomotif BB10

Lokomotif uap BB10 merupakan generasi pertama dari lokomotif tipe Mallet yang beroperasi di Indonesia. Lokomotif ini dibeli oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) sebanyak 16 buah dari dua pabrik yang berbeda. 12 lokomotif BB10 dibeli dari pabrik Hartmann (Jerman) dan 4 lokomotif BB10 dibeli dari pabrik Schwartzkopff (Jerman). Lokomotif ini didatangkan pada tahun 1899 – 1908. Lokomotif in menggunakan bahan bakar residu.

Diawal kariernya, Lokomotif uap BB10 digunakan untuk menarik rangkaian kereta api yang mengangkut hasil bumi, perkebunan dan penumpang yang ada pada rute Bogor – Bandung. Jalur kereta api rute Bogor – Bandung dibuka pada tahun 1884. Lokomotif ini memiliki tekanan gandar yang sesuai dan cukup kuat untuk mendaki dan menyusuri jalur kereta api yang melalui topografi pegunungan. Lokomotif BB10 juga beroperasi di Rangkasbitung dan Banjar. Pada masa pemerintahan Jepang di Indonesia, lokomotif BB10 juga beroperasi di rute Saketi – Bayah (80 km). Pemerintah Jepang membangun jalan rel rute Saketi – Bayah (80 km) pada tahun 1942-1945 untuk mengangkut batu bara dari tambang batu bara Cikotok (Banten).

Lokomotif BB10 memiliki silinder uap tekanan tinggi dan silinder uap tekanan rendah yang terpisah. Kedua silinder ini menyalurkan uap untuk menggerakan roda-roda penggerak. Posisi roda penggerak ini terpisah pada dua bagian yang berbeda. Bagian pertama (depan), roda penggerak yang berada pada bogie tersendiri yang dapat bergerak ke kanan/kiri mengikuti jalur rel sedangkan bagian kedua (belakang), roda-roda penggerak yang fix pada frame lokomotif. Lokomtif BB10 memiliki susunan roda 0-4-4-2T. 0-4-4-2T artinya tidak memiliki roda idle di depan, 2 roda penggerak di depan, 2 roda penggerak di belakang dan 1 roda idle di belakang. Kode T berarti memiliki tangki. Lokomotif BB10 memiliki panjang 10560 mm, daya 465 HP (horse power) dan berat 44,1 ton. Lokomotif ini dapat melaju hingga kecepatan 45 km/jam.

Dari 16 lokomotif BB10, saat ini hanya tersisa 1 buah, yaitu BB10 12. Lokomotif BB10 12 dipajang di Museum Ambarawa (Jawa Tengah).

Lokomotif BB76



Lokomotif Mallet Aceh mulai beroperasi tahun 1904. Lokomotif dengan susunan roda 0-4-4-0 ini dibuat oleh pabrik Esslingen-Jerman dan merupakan lokomotif yang modern di jamannya. Berbeda dengan lokomotif uap lainnya, lampu sorot lokomotif Mallet ini cukup besar dan menggunakan lampu listrik. Listrik diperoleh dari turbo generator yang diputar oleh tenaga uap. Lokomotif Mallet milik ASS ini berbahan bakar kayu dan diberi nomor AT 50-55. Karena ruang penyimpanan kayu terlalu kecil maka operasi lokomotif ini terbatas. Untuk mengatasinya maka pada tahun 1922, ASS memperpanjang frame sekitar 1 m agar ruangan di belakang masinis lebih besar dan dapat mebawa lebih banyak kayu bakar. Penambahan panjang frame juga menambah 2 gandar pendukung sehingga susunan roda menjadi 0-4-4-4-4. Lokomotif yang lebih panjang ini diberi nomor ASS 71-76.Lokomotif Mallet 0-4-4-4 ini di jaman DKA mendapat nomor seri BB76
Lokomotif BB84




Kereta api di Aceh berperan membuka keterpencilan Aceh dengan menghubungkan wilayah ini dengan Sumatra Utara serta daerah-daerah di Aceh sendiri. Kereta api di Aceh merupakan alat perjuangan seutuhnya dan beroperasi penuh sepanjang 520 km. Jalan Rel di Aceh dibangun jalan rel dengan lebar (gauge) 750 mm oleh perusahaan kereta api Atjeh Staats Spoorwegen (ASS) pada tahun 1876 – 1917. Pada awal tahun 1950, kereta api di Aceh beroperasi dengan kecepatan rendah (20 – 30 km/jam). Hal tersebut disebabkan karena merosotnya mutu sarana dan prasarana sebagai akibat dari perang. Saat itu hanya tersedia sejumlah 10 unit lokomotif uap di Langsa, sedangkan lokomotif-lokomotif uap tersebut umurnya sudah sangat tua, bahkan ada lokomotif uap yang telah beroperasi sejak tahun 1903.

Untuk mengganti lokomotif uap yang telah berumur tua di Aceh, maka DKA (Djawatan Kereta Api) mendatangkan 6 unit lokomotif uap tipe Ch2 (yang diberi nomor C71 – C76) dan 4 unit lokomotif uap tipe BB1n4v (yang diberi nomor BB81 – BB84) dari pabrik Nippon Sharyo (Jepang) pada tahun 1962. Lokomotif uap BB81 – BB84 merupakan generasi terakhir dari lokomotif tipe Mallet yang beroperasi di Indonesia.

Lokomotif C71 – C76 memiliki susunan roda 2-6-0 memiliki dua silinder berdimensi 290 mm X 460 mm dengan roda berdiameter 875 mm serta berat 17,8 ton, panjang 12575 mm dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 45 km/jam. Sedangkan lokomotif BB81 – BB84 memiliki susunan roda 0-4-4-2T memiliki dua silinder berdimensi 275 mm X 460 mm dengan roda berdiameter 875 mm serta berat 17,8 ton, panjang 9764 mm dan dapat melaju hingga kecepatan maksimum 35 km/jam.

Sama seperti umumnya di Indonesia (dahulu Hindia Belanda), pembangunan lintasan kereta api di Aceh, dari Banda Aceh menuju Medan, semuanya melalui berbagai kawasan perkebunan di Aceh Bagian Timur, seperti Kabupaten Sigli dan Aceh Timur.

Namun seiring perkembangan zaman, menyusul pudarnya masa kejayaan usaha perkebunan di Aceh, peran lokomotif uap mulai berkurang, sehingga operasional lokomotif uap dihentikan pada tahun 1976. Apalagi, belakangan saingan kendaraan mobil yang waktu tempuhnya lebih cepat, karena kondisi jalan yang semakin baik. Dari 4 unit lokomotif unit tipe BB1n4v (BB81 – BB84), saat ini hanya tersisa 1 unit saja, yaitu BB84. Lokomotif BB84 dipajang di kota Banda Aceh. Namun tidak ada satupun yang tersisa dari lokomotif uap tipe Ch2 (C71 – C76).

Lokomotif CC10



Lokomotif Mallet generasi kedua dan lebih bertenaga ini memiliki susunan roda 2-6-6-0, juga dirancang dan dibuat oleh pabrik Hartmann. Lokomotif mallet tipe kedua ini mulai beroperasi tahun 1904. Pabrik lainnya yang membuat lokomotif ini adalah Schwartzkopff dan Wekspoor. Pada tahun 1912, lokomotif ini mendapat nomor seri SS 521-543 dan SS 551-561. Semua lokomotif serie SS 500 memiliki tangki air di sisi kiri dan kanan ketel, atau disebut pula lokomotif tender (tank engine). Selain beroperasi di Purwakarta-Bandung, lokomotif ini juga berjaya menghela kereta penumpang maupun barang pada jalur Cicalengka-Banjar yang memiliki gradien yang lebih terjal yaitu 25 %0. Kecepatan maksimum lokomotif ini dibatasi sekitar 40-50 km/jam mengingat banyaknya tikungan-tikungan tajam di jalur pegunungan Jawa Barat. Lokomotif Mallet 2-6-6-0 ini di jaman DKA mendapat nomor seri CC10.

Lokomotif CC50



Lokomotif uap CC50 merupakan lokomotif tipe Mallet generasi ke enam yang beroperasi di Indonesia. Lokomotif ini dibeli oleh perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) sejumlah 30 buah dari dua pabrik yang berbeda. 14 lokomotif CC50 dibeli dari pabrik Werkspoor (Belanda) dan 16 lokomotif CC50 dibeli dari pabrik SLM/Schweizerische Lokomotiv und Maschinenfabrik Winterthur (Swiss). Lokomotif CC50 didatangkan pada tahun 1927 – 1928.

Walaupun lokomotif seri DD sudah dapat memenuhi kebutuhan angkutan barang di jalur kereta api yang melalui pegunungan di Jawa Barat namun lokomotif ini tidak dapat beroperasi pada jalur pegunungan yang lain. SS masih membutuhkan lokomotif dengan daya yang lebih kuat dari lokomotif yang sudah ada dan tekanan gandar di bawah 11 ton sehingga dapat melalui semua jalur pegunungan di Jawa. Tugas ini dipercayakan kepada lokomotif CC50. Lokomotif CC50 mampu berbelok dengan mulus pada tikungan yang tajam pada jalur pegunungan. Lokomotif CC50 memiliki daya 1190 HP (horse power), berat 73.6 ton, panjang 19902 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 55 km/jam.

Di awal kariernya, lokomotif CC50 digunakan untuk menarik rangkaian kereta api di jalur Purwakarta – Bandung – Banjar dan Purwokerto – Prupuk. Lokomotif CC50 digunakan untuk menarik kereta Eendaagsche Expres (expres siang) dan kereta Nacht Expres (expres malam) pada rute Purwokerto - Prupuk. Kedua kereta expres ini menjelajahi rute Surabaya-Yogyakarta-Purwokerto-Jakarta dalam waktu 11 jam 27 menit.

Lokomotif CC50 memiliki susunan roda 2-6-6-0. Lokomotif ini memiliki silinder uap tekanan tinggi dan silinder tekanan rendah yang terpisah. 3 roda penggerak digerakkan oleh silinder uap yang bertekanan tinggi. 3 roda penggerak ini fix pada frame lokomotif dan berada di bagian belakang. Selanjutnya uap dari silinder tekanan tinggi ini disalurkan ke silinder tekanan rendah yang juga menggerakkan 3 roda penggerak pada bogie yang berada di bagian depan. Bogie ini dapat bergerak ke kanan/kiri terhadap frame lokomotif dan mengikuti jalur rel. Uap yang telah digunakan oleh silinder tekanan rendah selanjutnya dibuang melalui cerbong asap.

Dari 30 lokomotif CC50, saat ini tersisa 3 buah yaitu lokomotif CC50 01, CC50 22 dan CC50 29. Lokomotif CC50 01 dipajang di Museum Transportasi, Taman Mini Indonesia Indah (Jakarta). Lokomotif CC50 22 dipajang di Museum Utrecht (Belanda). Lokomotif CC50 29 dipajang di Museum Ambarawa (Jawa Tengah).


Lokomotif DD50, DD51 dan DD52

Lokomotif DD51


Lokomotif DD50


Lokomotif DD52


Walaupun lokomotif uap CC10 sudah dapat memenuhi kebutuhan angkutan barang di jalur kereta api yang melalui pegunungan di Jawa Barat namun perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) masih membutuhkan lokomotif dengan daya yang lebih kuat dari lokomotif yang sudah ada dan mampu berbelok dengan mulus pada tikungan yang tajam pada jalur pegunungan di Jawa Barat. Tugas ini dipercayakan kepada lokomotif DD50, DD51 dan DD52. Lokomotif uap DD50, DD51 dan DD52 merupakan lokomotif tipe Mallet generasi ketiga, keempat dan kelima yang beroperasi di Indonesia. Ketiga seri lokomotif uap tersebut memiliki susunan roda 2-8-8-0.

Lokomotif DD50 memiliki berat 133 ton, panjang 20737 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 40 km/jam. Lokomotif DD51 memiliki daya berat 137 ton, panjang 20737 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 40 km/jam. Lokomotif DD52 memiliki daya 1850 HP (horse power), berat 136 ton, panjang 20792 mm dan mampu melaju hingga kecepatan 50 km/jam. Dengan spesifikasi teknis yang seperti itu maka lokomotif DD50, DD51 dan DD52 merupakan lokomotif uap terbesar yang pernah beroperasi di Indonesia.

Pada tahun 1916, SS memesan 8 unit lokomotif DD50 pabrik ALCO (American Locomotive Co, Amerika Serikat). Kemudian pada tahun 1919, SS kembali memesan 12 unit lokomotif DD51 ke pabrik ALCO dengan konstruksi yang sama dengan lokomotif DD50 namun dengan design teknis yang lebih baik. Lokomotif DD50 dan DD51 mampu melaju hingga kecepatan 40 km/jam. Pada tahun 1923, SS kembali memesan 10 unit lokomotif DD52 dengan konstruksi yang sama dengan lokomotif DD50/DD51 namun dengan kecepatan maksimum yang lebih tinggi yaitu 50 km/jam. Namun pemesanan lokomotif DD52 ini dilayangkan kepada 3 (tiga) pabrik lokomotif di Eropa (Hanomag/Jerman, Hartmann/Jerman and Werkspoor/Belanda).

Operasional Lokomotif seri DD ini hanya bertahan sampai dengan tahun 1974 dan tak ada satupun yang tersisa, seiring dengan penggantian penggunaan lokomotif uap dengan lokomotif diesel.